RSS

DRAMA CHINA: PILGRIMAGE TO THE WEST 《西游记》 EPISODE 1 TO 17


VIDEO CLIPS EPISODE 1 TO 5

VIDEO CLIPS EPISODE 6 TO 10

VIDEO CLIPS EPISODE 11 TO 15

VIDEO CLIPS EPISODE 16 TO 20

VIDEO CLIPS EPISODE 21 TO 25

Pilgrimage to the West Episode 1

Saat dua siluman tengah memperebutkan mustika ajaib berwarna emas, mustika tersebut jatuh dan mengenai sebuah batu yang berada di gunung Hua Guo. Benturan antara batu dan mustika membuat gelombang besar yang bahkan mampu mengguncang Kerajaan Langit.

Batu tersebut akhirnya berubah menjadi kera kecil dengan warna bulu emas yang langsung diadopsi anak oleh Raja dan Ratu Kera. Oleh penasehat sang raja, kera kecil itu diberi nama Shi Hou alias Kera Batu. Hidup bersama keluarga barunya, Shi Hou benar-benar merasakan kebahagiaan.

Sayangnya tak lama kemudian terjadi tragedi, petir menyambar ke Gunung Hua Guo dan membuat para kera kocar-kacir. Bahkan, Raja Kera tewas akibat kejadian itu. Tak lama kemudian, bencana kedua muncul dalam bentuk banjir besar yang lagi-lagi membuat para kera panik.

Dalam keadaan terjepit, Shi Hou akhirnya bisa menemukan Shuilian-dong alias gua yang terletak dibelakang air terjun sebagai tempat berlindung kaum kera. Sebagai wujud terima kasih, rakyat kera sepakat mengangkatnya sebagai raja yang baru dengan julukan Mei Houwang (Raja Kera Tampan).

Mengira kalau bencana sudah lewat, Shi Hou kembali harus menghadapi kenyataan bahwa umur kera, seperti mahluk lainnya, tidaklah abadi. Begitu mendengar bahwa yang tidak mati hanyalah dewa, Wukong langsung bertekad untuk mencari tahu cara hidup abadi. Hanya bermodal rakit kecil, Shi Hou berkelana mengarungi lautan hingga tiba ke dunia manusia.

Setelah berhasil mencuri pakaian, Shi Hou menyamar sebagai manusia dan pelan-pelan mulai mempelajari banyak hal tentang kehidupan. Pengembaraan mencari dewa ternyata memakan waktu bertahun-tahun, tak terasa Shi Hou telah tumbuh sebagai kera dewasa.

Setelah melalui perjalanan panjang, Shi Hou diberitahu oleh seorang petani tentang Gua Shan Xing dimana bersemanyam pria yang telah dianggap sebagai dewa bernama Wu Di (Bodhi). Namun begitu sampai disana, salah seorang murid Wu Di memberitahu bahwa Shi Hou tidak diterima untuk bertamu.

Dasar bertekad baja, Shi Hou bertekad tidak akan pergi sampai Wu Di mau menerima dirinya. Bahkan saat turun hujan salju dan es, Shi Hou tidak bergeming didepan gua. Keteguhan monyet muda itu membuat Wu Di tergerak, ia akhirnya mengijinkan Shi Hou masuk dan menerimanya sebagai murid.

Oleh Wu Di, Shi Hou diberi nama baru : Sun Wukong. Begitu gembira, Wukong ternyata tidak serius belajar selama berada dibawah bimbingan Wu Di. Menyebut bahwa yang diinginkannya adalah menjadi dewa, Wukong menceritakan pengalamannya selama berada di dunia manusia. Mengaku tidak habis pikir dengan manusia yang tidak pernah puas, jawaban Wukong membuat Wu Di terkesima.

Kuatir dengan muridnya yang tidak bisa diatur tersebut, Wu Di akhirnya mengajarkan beberapa jurus rahasia pada Wukong mulai dari perubahan bentuk hingga terbang. Syaratnya hanya satu : Wukong tidak boleh memberitahu siapapun tentang jurus yang dikuasainya.

Terus berlatih dengan tekun, dalam waktu singkat Wukong mampu menguasai semua yang diajarkan sang guru. Namun saat dikelilingi para saudara seperguruannya, Wukong melupakan janjinya dan mempertontonkan kemampuannya berubah menjadi pohon dan seorang wanita.

Kejadian itu diamati oleh Wu Di, yang kontan merasa kecewa. Kaget melihat sang guru tahu-tahu muncul dihadapannya, Wukong sadar kalau dirinya melakukan kesalahan besar. Sayang, Wu Di tidak mau menerima permintaan maafnya dan malah mengusir Wukong.

Pilgrimage to the West Episode 2

Rupanya tak lama setelah Wukong pergi, rakyat kera ditindas oleh sekelompok siluman. Dengan marah, Wukong langsung melabrak dan menumpas para siluman berilmu tinggi tersebut. Dalam waktu singkat, reputasinya sebagai kera sakti langsung bergema di seluruh penjuru negeri.

Sepasang siluman yang telah berwujud manusia Qing Jiao dan Bai Feng muncul di Gunung Hua Guo bersama Raja Siluman Kerbau dan tiga siluman lain untuk menyatakan kekaguman mereka pada Wukong. Gembira mendapat pujian, Wukong dan keenam siluman itu akhirnya menyatakan diri sebagai saudara sedarah.

Meski berwujud kera, ternyata ada yang lebih meresahkan Wukong : sebagai mahluk yang sakti, dirinya masih belum memiliki senjata andalan. Atas saran salah seorang saudara barunya, ia langsung bertolak ke Laut Timur untuk bertemu Ao Guang yang disebut-sebut memiliki banyak senjata sakti.

Langsung gentar karena telah mendengar reputasi Wukong, Raja Naga Laut Timur langsung menyuruh para pelayan mengeluarkan satu-persatu senjata miliknya. Sayang meski diakui sebagai benda sakti, senjata tersebut ternyata langsung bengkok begitu digunakan oleh Wukong.

Amarah Wukong nyaris saja meledak, namun Raja Naga Laut Timur, atas nasehat penasehatnya, buru-buru menunjukkan satu benda lain : tiang raksasa Jingu Bang yang biasa digunakan untuk mengatur arus lautan. Begitu didatangi Wukong, tongkat tersebut langsung bersinar terang dan menuruti semua permintaan sang raja kera.

Mendapat tongkat saja ternyata masih belum cukup, Wukong kembali menagih Raja Naga Laut Timur untuk memberinya pakaian terbaik. Dalam keadaan terjepit, Raja Laut Timur memanggil saudara-saudaranya sehingga Wukong mendapat : baju zirah emas, topi bulu phoenix, dan sepatu yang bisa digunakan untuk berjalan diatas awan.

Begitu kembali ke Gunung Hua Guo, Wukong langsung disambut oleh sorak-sorai rakyat kera dan keenam saudara/i angkatnya. Dipuji sebagai mahluk terhebat di atas Bumi, Wukong semakin jumawa dan langsung memamerkan kehebatan tongkat Jingu Bang yang bisa berubah-ubah bentuk dan ukuran sesuai dengan perintahnya.

Malamnya, Wukong merayakan kesuksesannya dengan minum-minum hingga mabuk berat. Saat terbangun, ia mendapati dirinya tengah dibawa ke Kerajaan Neraka. Tidak terima kalau dirinya dinyatakan sudah mati, Wukong langsung mengobrak-abrik tempat tersebut dan membuat Raja Neraka ketakutan.

Dengan suara tinggi, Wukong meminta penghuni kerajaan Neraka untuk mencari buku kematian yang bertuliskan namanya dan para kera. Raja Neraka yang berusaha mencegah tidak berdaya, ia hanya bisa terduduk lemas menyaksikan Wukong mencoret-coret buku kematian.

Kelakuan Wukong membuat keempat Raja Laut dan Raja Neraka menghadap ke Langit untuk bertemu Raja Giok. Sempat mempertimbangkan untuk mengirim pasukan Langit untuk menangkap sang kera sakti, Raja Langit dinasehati oleh Tai Bai Jinxing alias Dewa Venus untuk menggunakan cara yang lebih halus : menobatkan Wukong sebagai penjaga kuda di Langit.

Di Gunung Hua Guo, Wukong terlibat pembicaraan serius dengan Bai Feng alias Pian Pian mengenai wujud sang siluman kera. Dengan cerdas, Wukong menyebut bahwa jauh lebih bebas dan gembira menjadi binatang dibanding manusia yang kerap saling menyakiti satu sama lain.

Pembicaraan keduanya terhenti oleh kemunculan Raja Siluman Kerbau, yang memberitahu bahwa utusan dari Langit telah datang. Begitu Wukong muncul, Dewa Venus langsung memberitahu kabar baik yang dibawanya. Namun ajakan untuk datang ke Istana Langit ditanggapi berbeda oleh saudara/i sedarah Wukong, yang menganggapnya sebagai jebakan.

Namun, Wukong yang percaya diri menyebut siap mengacak-acak Istana Langit bila dirinya diperlakukan tidak adil. Sempat terjadi insiden di pintu masuk kalau saja Dewa Venus tidak mencegah, Wukong akhirnya bertemu dengan Raja Langit. Sikap Wukong yang seenaknya membuat para dewa terutama Dewa Pagoda Li Jing marah, namun sang siluman kera yang tidak kenal takut malah balik menantang.

Dengan arif, Raja Langit mampu menghentikan adu mulut antara Wukong dan Li Jing sambil memberikan tugas sebagai penjaga kuda pada sang siluman kera. Tidak sadar kalau jabatan tersebut adalah yang terendah di Istana Langit, Wukong menerimanya sambil melompat-lompat kesenangan.

Pilgrimage to the West Episode 3

Berkat keluwesan dan pengalamannya di Gunung Hua Guo, Wukong mampu mengerti perkataan para kuda yang dipeliharanya. Sempat terjembab jatuh dari punggung kuda putih yang ditungganginya, Wukong ditertawai oleh Nezha, dewa roda api yang tidak lain adalah anak Dewa Pagoda Li Jing.

Sempat adu mulut soal siapa yang lebih cepat, keduanya akhirnya bertanding : Wukong menunggangi kuda putih peliharaannya sementara Nezha membalap dengan roda api andalannya. Pertandingan keduanya sempat membuat Langit kacau, Dewa Pagoda Li Jing sempat kesal dengan sikap Wukong sebelum akhirnya terdiam karena sadar putranya Nezha ikut andil terhadap kekacauan yang terjadi.

Di Gunung Hua Guo, Siluman Naga Qing Jiao terus marah-marah sejak Wukong pergi. Tidak memperdulikan nasehat Siluman Bangau Bai Feng, ia nekat berusaha masuk ke Istana Langit. Dicegat oleh Dewa Penjaga Pintu, Qing Jiao tidak berkutik. Baru saja hendak pergi, tiba-tiba Wukong dan Nezha, yang masih terlibat adu balap, tiba di gerbang Istana Langit.

Atas siasat Wukong, Qing Jiao berhasil menyelinap masuk dengan menyamar sebagai pecut kuda. Di dalam, dengan sengaja ia menanyakan pada beberapa penghuni Istana Langit soal jabatan yang dipercayakan pada Wukong. Begitu tahu kalau tugas sebagai penjaga kuda adalah jabatan paling rendah, Wukong mengamuk dan langsung memutuskan untuk kembali ke Gua Hua Guo.

Begitu tiba, ia langsung disambut dengan gembira oleh Siluman Bangau Bai Feng dan Raja Siluman Kerbau, yang menyamar sebagai mahluk bertanduk satu. Wukong semakin terlena ketika dipanas-panasi dengan jubah kaisar, para saudara angkatnya langsung sepakat menyebut siluman kera itu tidak kalah hebat dengan Raja Langit.

Masih merasa terhina, ucapan tersebut bagaikan bensin yang disiram ke api, Wukong langsung memerintahkan para kera untuk membuat panji. Diikat dengan tongkat saktinya, panji tersebut diusung hingga terlihat ke Istana Langit, sebuah isyarat menantang kekuasaan Kaisar Langit.

Meski berat hati, Kaisar Langit tidak punya pilihan lain kecuali mengutus pasukan yang dipimpin oleh Li Jing untuk menangkap dan menghukum Wukong. Bukannya takut, aksi pasukan tersebut malah membuat Wukong tertawa. Bahkan, salah seorang utusan Dewa Pagoda yang ditugaskan menangkapnya dibuat tidak berkutik dan babak-belur.

Sadar kalau Wukong tidak bisa dihadapi dengan kekerasan, Nezha meminta ijin pada Dewa Pagoda untuk membujuk sang siluman kera. Wukong sempat terdiam ketika dijelaskan apa alasan dirinya hanya diangkat sebagai penjaga kuda, namun kesombongan telah membuat Wukong lupa diri.

Kesal karena nasehatnya tidak dituruti, Nezha akhirnya terlibat pertempuran dengan Wukong. Pertarungan sempat berlangsung seru, dan puncaknya adalah ketika Nezha mengeluarkan jurus pamungkasnya. Tidak mau kalah, Wukong mengikuti jurus tersebut. Bisa ditebak, dewa sehebat Nezha sekalipun bahkan bisa dikalahkan.

Nyaris saja diserang Siluman Raja Kerbau saat terluka, Nezha ditolong oleh Wukong yang tidak tega melihatnya tewas begitu saja. Begitu kembali menghadap Dewa Pagoda, Nezha memberanikan diri mengatakan bahwa apa yang terjadi pada Wukong adalah akibat ulah para dewa juga.

Pilgrimage to the West Episode 4

Sempat terjadi perdebatan sengit antara Tai Bai Jinxing alias Dewa Venus dan Dewa Pagoda Li Jing, Tai Bai Jinxing meminta supaya Raja Langit memberikan kesempatan pada Wukong sementara Li Jing meminta supaya sang siluman kera tetap dihukum.

Setelah sempat berpikir cukup lama, Raja Langit mengutus Tai Bai Jinxing untuk datang ke Gunung Hua Guo dan menemui Wukong. Belum sempat bicara, dewa tua itu langsung diserang oleh Siluman Naga Qing Jiao. Untungnya, Wukong muncul tepat waktu. Berkat bujukan Dewa Venus, Wukong akhirnya mau diajak kembali ke Istana Langit.

Begitu sampai di Istana Langit, Wukong sengaja mengacuhkan Raja Langit yang mengajaknya bicara dan malah asyik mengobrol dengan Nezha. Begitu diberitahu kalau dirinya diberi tempat tinggal dan dilayani, Wukong langsung melunak dan berterima kasih pada Raja Langit.

Keadaan tenang tidak berlangsung lama, Wukong kembali berulah saat mengunjungi Lao Tzu salah seorang dewa yang sangat dihormati. Tanpa basa-basi, ia langsung masuk dan mengganggu Lao Tzu yang tengah bermain catur bersama seorang dewa senior lain. Bahkan, Dewa Pagoda Li Jing yang muncul belakangan juga tidak dihiraukannya.

Setelah mendengar keluhan, Raja Langit mulai memikirkan cara untuk menyibukkan Wukong. Akhirnya, ia memutuskan menunjuk sang siluman kera sebagai penjaga kebun persik. Oleh Dewa Tanah di istana, Wukong diberitahu bahwa bila dimakan, buah persik bisa membuat seseorang berumur panjang.

Saat senggang, Nezha menyempatkan diri menemui Wukong untuk kembali menasehatinya akan sopan-santun di Istana Langit. Ketika Nezha heran karena Wukong menyamakan para dewa dengan rakyat kera, siluman kera itu langsung menyahut bahwa pada dasarnya semua mahluk memiliki derajat yang sama.

Ucapan itu membuat Nezha tidak berkutik, ia mengaku bahwa kehidupan di dunia manusia jauh lebih menyenangkan dibanding Istana Langit yang penuh peraturan. Setelah melalui perdebatan alot, Wukong yang gembira karena memiliki sahabat seperti Nezha akhirnya berjanji untuk bisa bersikap lebih baik terhadap dewa yang lain.

Dasar bandel, tak lama kemudian Wukong kembali berulah. Saat ditinggal sendirian, ia menghabiskan buah persik yang tumbuh di kebun istana. Begitu mendengar bakal ada perjamuan besar, Wukong yang marah karena dirinya tidak diundang nekat menyamar sebagai Buddha untuk bisa masuk ke lokasi pesta. Disana, ia langsung memakan buah-buahan dan arak milik Raja Langit yang telah disediakan.

Dalam keadaan mabuk, Wukong masuk ke kediaman Lao Tzu dan nekat menelan semua pil dewa yang ada didalam sebuah guci. Begitu bangun, Wukong sadar kalau kesalahannya kali ini tidak bisa ditolerir lagi. Namun dengan sombong, ia malah menyalahkan Raja Langit dan memutuskan untuk kembali ke Gunung Hua Guo untuk mempersiapkan pasukan kera.

Begitu mendengar dari para dayang kalau persik yang didapat hanya sedikit, Permaisuri langsung melapor ke Raja Langit. Sempat berusaha menenangkan dengan alasan pesta persik bisa diganti dengan pil dewa, Permaisuri langsung terdiam saat mendengar laporan semua pil dewa telah dimakan oleh Wukong.

Kemarahan Raja Langit mencapai puncaknya begitu mendengar bahwa Wukong menjadi biang semua kekacauan, ia langsung memerintahkan Dewa Pagoda Li Jing untuk membawa 100 ribu pasukan ditambah empat penjaga langit dan Nezha untuk meringkus Wukong. Begitu mendengar Gunung Hua Guo dikepung, Wukong langsung bersemangat. Namun, Siluman Raja Kerbau meminta supaya dirinya bisa maju ke barisan depan.

Pilgrimage to the West Episode 5

Sambil menghela napas, Siluman Raja Kerbau mengaku kuatir dengan nasib rakyat kera. Wukong langsung meminta rakyatnya untuk mengungsi, namun mereka menyebut siap mati demi sang raja. Ucapan tersebut membuat Wukong semakin percaya diri menghadapi bala tentara Istana Langit.

Untuk meringkus Wukong, Dewa Pagoda Li Jing mengutus Empat Dewa Penjaga Langit : Duo Wen Tian, Dewa Penjaga Pintu Zheng Zhang Tian, Zhi Guo Tian, dan Guang Mu Tian. Siapa sangka Wukong ternyata sangat tangguh, ia baru takluk setelah Duo Wen Tian menggunakan payung saktinya.

Dengan penuh kemenangan, Empat Dewa Penjaga Langit membawa payung sakti dimana Wukong terkurung didalamnya. Keruan saja Nezha langsung kuatir, ia sadar betul akan kesaktian payung tersebut. Wajahnya semakin pucat ketika mendengar bahwa besar kemungkinan Wukong sudah musnah ditelan kesaktian payung.

Namun tak lama kemudian, payung tersebut langsung merebak dan Wukong muncul dari dalam. Nezha gembira melihat sahabatnya ternyata tidak cedera sama sekali, tapi semuanya berubah ketika Wukong menantang Dewa Pagoda Li Jing. Langsung memarahi Wukong yang dianggap lancang dan banyak membuat kesalahan, kesabaran Nezha akhirnya habis ketika sang siluman kera tetap ngotot dan merasa benar.

Pertempuran antara Nezha dan Wukong akhirnya tidak bisa dihindari lagi. Di Bumi, pasukan Istana Langit kewalahan menghadapi pasukan kera yang dipimpin oleh tiga siluman sekaligus : Siluman Raja Kerbau, Siluman Naga Qing Jiao, dan Siluman Bangau Bai Feng. Dengan cepat, Li Jing memerintahkan Empat Dewa Penjaga Langit untuk turun tangan membereskan semuanya.

Menghadapi para dewa berilmu tinggi, sudah tentu para siluman kewalahan. Yang pertama takluk adalah Siluman Raja Kerbau, Siluman Bangau Bai Feng dalam keadaan kritis karena terlilit pecut Guang Mu Tian sementara Siluman Naga Qing Jiao kewalahan menghadapi Dewa Penjaga Pintu Zheng Zhang Tian. Begitu mendengar suara Bai Feng, Wukong langsung meninggalkan medan pertempuran dan bergegas menolong sang kakak angkat.

Dengan kekuatannya, Wukong mampu menyembuhkan Bai Feng. Sementara itu, Qing Jiao yang terpental akibat serangan Zheng Zhang Tian ditolong oleh Nezha. Sebelum ambruk, Nezha mengaku melakukan semuanya karena tahu Qing Jiao adalah sahabat Wukong. Bukannya berterima kasih, siluman naga itu malah berniat membunuh Nezha. Untungnya, Wukong muncul.

Tidak ingin Wukong kembali dipengaruhi, Qing Jiao membohongi sang siluman monyet dengan menyebut Nezha terluka parah dan sudah mati. Wukong memang setia kawan, ia tidak meninggalkan Nezha dan malah menyalurkan tenaga dalamnya untuk menyembuhkan sang sahabat.

Begitu sadar, hal pertama yang ditanyakan Nezha adalah apakah Qing Jiao terluka atau tidak. Siapa sangka, Qing Jiao malah menjawab dengan sinis sehingga Wukong kaget. Tak lama kemudian, kembali terjadi adu mulut antara Nezha dan Wukong. Pasalnya, Nezha masih terus berusaha mengingatkan Wukong akan kesalahannya.

Menolak menyebut siapa guru yang mengajarinya, Wukong mengatakan bahwa aksinya menolong Nezha hanyalah untuk membalas budi. Keruan saja Nezha sakit hati, pasalnya ia sudah menganggap Wukong sebagai sahabat baik. Dengan kesal, Nezha langsung pergi.

Hanya berselang beberapa detik, Nezha ternyata kembali lagi. Rupanya ia membawa kabar yang mengkuatirkan : bala tentara Langit tambahan telah dikerahkan untuk menggempur Gunung Hua Guo. Setelah meminta Bai Feng dan Qing Jiao untuk mundur, Wukong memutuskan untuk menghadapi tentara Istana Langit sendirian.

Pilgrimage to the West Episode 6

Sambil menunggu pagi tiba, Nezha menyempatkan diri untuk berbicara dengan ayahnya Dewa Pagoda Li Jing. Melihat reaksi sang putra, Li Jing sadar bahwa Nezha telah menganggap Wukong sebagai sahabat baiknya. Keduanya sepakat bahwa Wukong tidak jahat, hanya sifatnya sebagai monyet yang sulit diubah.

Begitu muncul di Istana Langit, Dewi Guanyin langsung bisa menebak bahwa Raja Langit tengah gundah karena Wukong. Sang dewi mengusulkan supaya Dewa Er Lang diutus untuk meringkus Wukong, namun Raja Langit tahu bahwa sang keponakan bakal menolak perintahnya. Sebagai jalan tengah, Dewi Guanyin mengutus asistennya Hui An yang juga adalah kakak Nezha untuk membujuk Dewa Er Lang.

Tanpa banyak bicara, Dewa Er Lang langsung setuju untuk turun tangan. Begitu melihat kehadiran sang dewa yang ditemani keenam saudaranya, Wukong sempat memandang remeh. Meski tahu kalau Dewa Er Lang adalah keponakan Raja Langit, namun sorak-sorai rakyat kera membuatnya pongah.

Tapi kali ini Wukong benar-benar mendapat lawan tangguh, pasalnya Dewa Er Lang juga menguasai jurus 72 Perubahan Wujud. Sempat kena ketapel saat berubah menjadi burung, Wukong bergerak cepat dengan menjelma menjadi sebuah kuil. Namun ada satu kelemahan : ekornya masih tetap utuh. Langsung bisa menebak kalau kuil tersebut adalah penjelmaan WUkong, Dewa Er Lang langsung memukul-mukul bagian jendela dan pintu bangunan tersebut.

Tiba-tiba kuil tersebut langsung berubah menjadi Wukong yang menjerit-jerit kesakitan karena kepala dan bibirnya memar dipukuli Dewa Er Lang. Dengan cepat, Wukong langsung kabur diiringi makian Dewa Er Lang yang kembali gagal meringkusnya. Karena kehabisan akal, Dewa Er Lang menghadap Dewa Pagoda Li Jing untuk meminta bantuan melacak Wukong.

Wukong sendiri ternyata punya rencana lain. Dengan menyamar sebagai Dewa Er Lang, ia mendatangi kediaman sang musuh bebuyutan untuk membebaskan salah satu rakyat kera yang ditawan dan telah dianggap sebagai cucunya yaitu Xiao Xiao. Siasat tersebut nyaris saja berhasil...kalau saja Dewa Er Lang asli tidak muncul.

Bisa ditebak, pertempuran sengit kembali terjadi. Sempat tersenyum karena merasa di atas angin, Wukong dikejutkan oleh mata ketiga yang ada di dahi Dewa Er Lang asli yang langsung membuka penyamarannya. Tiba-tiba dari atas langit, sebuah gelang emas melilit tubuh Wukong dan membuat Xiao Xiao terlempar.

Apa yang dilakukan Xiao Xiao berikutnya sama sekali tidak diduga siapapun : ia mengemis-ngemis pada Dewa Er Lang dan memohon supaya Wukong dilepaskan. Wukong sempat marah melihat kelakuan salah satu kera yang telah dianggap sebagai cucunya tersebut, namun sifatnya langsung melunak begitu Xiao Xiao menangis.

Sikap tersebut membuat Dewa Er Lang serba salah. Di satu sisi ia iba akan tulusnya permintaan Xiao Xiao, namun di sisi lain ia juga mengemban tugas dari Raja Langit. Untungnya dilema tersebut tidak berlangsung lama, pasalnya Wukong yang geregetan sekaligus tidak berdaya akhirnya memutuskan untuk menyerah.

Tersenyum melihat sang kera sakti telah diringkus, Dewi Guanyin akhirnya kembali ke kediamannya. Dengan tangan dan kaki dirantai, Wukong dihadapkan ke Raja Langit dan Permaisuri. Kali ini, Nezha sekalipun tidak bisa lagi membela sang sahabat. Saat dinasehati untuk bertobat, Wukong malah melawan. Akhirnya, vonis hukuman dijatuhkan oleh Dewa Pagoda Li Jing.

Pilgrimage to the West Episode 7

Namun Wukong ternyata terlalu sakti, golok Istana Langit hingga berbagai unsur yang digunakan untuk mencabut nyawanya ternyata tidak mempan. Laotzu akhirnya mengusulkan supaya Wukong dimasukkan kedalam tungku segi delapan miliknya. Usul tersebut akhirnya disetujui Raja Langit.

Dalam perjalanan kembali ke Istana Langit, Raja Langit dan Permaisuri membicarakan soal Wukong yang kerap membandel. Sambil tersenyum simpul, Permaisuri menyebut kalau Wukong mengingatkannya pada Dewa Er Lang yang juga tumbuh tanpa kasih sayang orang tua.

Sebelum dimasukkan, Wukong masih sempat memaki-maki Laotzu yang dianggap terlibat persekongkolan memusuhi dirinya. Selama 49 hari, Wukong berada di dalam tungku. Saat hendak membuka tungku karena mengira Wukong telah menjadi abu, Laotzu terkejut saat tahu siluman kera tersebut masih hidup dan semakin sakti karena telah menyerap kekuatan api.

Begitu lepas, Wukong langsung menuju Istana Langit untuk membuat perhitungan dengan Raja Langit. Bahkan, Empat Dewa Penjaga Langit tidak berdaya menghadapi kesaktian Wukong yang makin berlipat ganda setelah keluar dari tungku. Dengan tongkatnya, Wukong juga berhasil membebaskan saudara-saudara angkatnya yang masih ditawan.

Setelah itu, hanya satu tempat yang menjadi tujuan Wukong : kediaman Raja Langit. Di tengah jalan, ia dihadang Nezha yang siap bertarung mati-matian dengan Wukong meski sebenarnya menaruh simpati pada sang siluman kera. Pertempuran sengit antara keduanya tidak bisa dielakkan, namun Nezha lagi-lagi tidak mampu menahan Wukong.

Di Istana Langit, Raja Langit tengah masygul memikirkan Wukong yang telah membuat kekacauan. Oleh Laotzu, Raja Langit dinasehatkan untuk meminta bantuan dari satu-satunya pihak yang bisa menaklukkan Wukong : Sang Buddha sendiri. Sadar kalau tidak ada pilihan lain, Raja Langit mengirim utusannya.

Keadaan semakin genting, Wukong yang telah merangsek masuk tengah berhadapan dengan para prajurit dan Dewa Pagoda Li Jing. Kuatir akan keselamatan Raja Langit, Li Jing meminta sang raja untuk segera mengungsi. Kesempatan itu digunakan Wukong untuk menghancurkan pilar istana dan kursi tahta.

Wukong rupanya masih belum puas, ia mengejar rombongan Raja Langit dan Permaisuri yang tengah mengungsi. Permaisuri berusaha membujuk Wukong untuk belajar memaafkan orang lain, namun sang siluman kera sudah terlanjur mendendam karena dikurung selama 49 hari. Ucapan Wukong yang dianggap lancang membuat Dewa Pagoda Li Jing marah, ia langsung mengerahkan pagoda andalannya untuk mengurung Wukong.

Secara mengejutkan, pagoda andalan Li Jing hancur karena tidak mampu menahan Wukong. Saat hendak menyerang Raja Langit, tiba-tiba Wukong mendengar suara dari atasnya. Dengan congkak, Wukong langsung berhadapan dengan sosok yang tidak lain adalah Buddha tersebut.

Pilgrimage to the West Episode 8

Mendengar ocehan Wukong yang begitu bernafsu menghajar Raja Langit sekaligus menjadi penguasa Istana Langit yang baru, Buddha Ru Lai hanya tersenyum simpul. Sambil mengeluarkan perkataan yang menentramkan, Buddha Ru Lai mengajak Wukong bertaruh.

Dengan sombong, Wukong langsung menyanggupi. Dengan sekali lompat, Wukong mengira dirinya telah sampai ke ujung dunia. Begitu melihat lima pilar, Wukong langsung menandai pilar tersebut dengan tulisan sambil buang air. Setelah selesai, ia langsung kembali menemui Buddha Ru Lai.

Namun, betapa terkejutnya Wukong saat sang Buddha menunjukkan tulisan yang ada di salah satu jarinya. Rupanya, pilar yang dikira Wukong sebagai ujung dunia adalah jari-jari Buddha Ru Lai. Saat berusaha meloloskan diri, Wukong dihimpit oleh tangan Buddha Ru Lai yang berubah menjadi sebuah gunung sehingga sang siluman kera terperangkap.

Mendengar makian Wukong, Buddha Ru Lai hanya tersenyum dengan penuh welas asih sambil mengatakan dengan lembut bahwa alasan sang siluman kera tidak bisa keluar dari telapak tangannya adalah karena hati Wukong yang penuh kegelapan. Mendapat wejangan bukannya membuat Wukong tenang malah sebaliknya, ia semakin marah melihat Buddha Ru Lai pergi meninggalkan tempat itu.

Dengan bijak, Buddha Ru Lai sadar bahwa suatu saat Wukong akan memainkan peranan penting dan meminta Dewi Guanyin untuk membantu sang siluman kera saat diperlukan kelak. Sempat bingung mendengar permintaan sang guru, Dewi Guanyin akhirnya mengerti saat Buddha Ru Lai menyebut soal Kitab Suci yang bisa menyelamatkan umat manusia dari penderitaan.

Dengan cepat, musim gugur datang yang kemudian disusul oleh musim dingin, musim semi, dan musim panas. Selama itu, Wukong terus menyumpah-nyumpah serta menantang para dewa dan Buddha untuk kembali bertempur. Namun seiring dengan berjalannya waktu, Wukong semakin frustrasi karena tidak ada satu pun mahluk yang mau menolongnya. Pelan-pelan, Wukong mulai berpikir apa yang salah dari dirinya.

Saat yang telah ditunggu akhirnya tiba. Begitu Dewi Guanyin melapor kalau muridnya telah menitis ke dunia dan menjadi salah satu orang kepercayaan raja dinasti Tang, Buddha Ru Lai memintanya untuk menyerahkan dua buah benda yang akan sangat berguna dalam perjalanan mengambil kitab suci : jubah dan tongkat.

Selain itu, ternyata masih ada satu benda lagi : gelang kepala yang bisa digunakan untuk mengontrol Wukong setelah membaca mantera. Tempat pertama yang didatangi Dewi Guanyin adalah Gunung Lima Jari, tempat dimana Wukong terperangkap selama 500 tahun. Melihat kemunculan sang dewi, Wukong langsung gembira dan akhirnya mengakui kalau dirinya telah banyak membuat kesalahan.

Tanpa pikir panjang, Wukong langsung mengiyakan saat ditanya kesanggupannya untuk menemani seseorang mengambil kitab suci. Sambil tersenyum, Dewi Guanyin menyebut bahwa orang yang kelak akan muncul membebaskan Wukong tersebut akan menjadi guru sang siluman kera dan mengajarinya tentang hidup yang benar.

Dengan menyamar sebagai biksuni, Dewi Guanyin masuk ke sebuah kota dan berpapasan dengan seorang pria terpelajar. Langsung mengatakan siap menyerahkan tongkat dan jubah tanpa imbalan uang, Dewi Guanyin tahu kalau pria tersebut adalah Raja Tang. Begitu melihat sosok Dewi Guanyin yang sebenarnya, Raja Tang langsung berlutut dan mengatakan siap menjalankan perintah sang dewi.

Begitu sampai di kerajaannya, Raja Tang mempertontonkan dua benda pemberian Dewi Guanyin. Namun saat ditanya biksu mana yang rela untuk memperoleh dua benda itu sambil berangkat untuk mengambil kitab suci, semua melangkah mundur....kecuali satu orang : biksu muda Xuanzang.

Pilgrimage to the West Episode 9

Sebelum pergi, Kaisar Taizong memberi sang biksu nama baru : Xuanzang. Tidak cuma itu, sang kaisar Tang juga memberi dua benda yang sebelumnya diberikan Dewi Guanyin yaitu tongkat dan jubah. Ditemani oleh dua orang pengawal dan seekor kuda, Xuanzang memulai perjalanan ke arah Barat untuk mengambil kitab suci.

Baru saja keluar dari kota dan memasuki hutan, rombongan Xuanzang diserang oleh seekor harimau ganas. Dua pengawalnya jadi korban, Xuanzang juga nyaris saja terbunuh kalau saja tidak ditolong oleh seorang pemburu bernama Liu Buojing. Dari pemburu Liu pula, sang biksu akhirnya tahu tentang seekor dewa kera yang dikurung di Gunung Lima Jari.

Begitu mendekat, samar-samar Xuanzang mendengar ada seseorang yang memanggilnya guru. Ternyata dibalik semak-semak, menyembul wajah mahluk berwajah kera yang menyebut siap menjadi murid Xuanzang dan menemaninya mengambil kitab suci di wilayah barat. Begitu kertas mantera Buddha Ru Lai diangkat, Wukong langsung meminta Xuanzang dan pemburu Liu mundur. Sekali mengerahkan kekuatan, Gunung Lima Jari langsung hancur berantakan dan Wukong, setelah 500 tahun, akhirnya bebas.

Langsung melompat-lompat kegirangan, Wukong, yang diberi nama baru Xingzhe oleh sang guru, mulai mengikuti biksu Xuanzang. Di tengah jalan, keduanya dihadang oleh harimau yang sempat nyaris mencelakai Xuanzang. Bukannya takut, Wukong dengan santai membantai harimau tersebut dan mengambil kulitnya sebagai pakaian. Tidak cuma itu, belakangan ia juga membunuh beberapa orang perampok yang berusaha mencuri barang sang guru.

Biksu Xuanzang sudah tentu terkejut, ia sama sekali tidak menyangka Wukong bakal berbuat sekeji itu. Namun menasehati Wukong, yang tidak pernah mendapat pengajaran tentang belas kasihan, ternyata tidak mudah, ia bahkan meninggalkan Xuanzang sendirian dan pergi entah kemana. Di tengah jalan, Xuanzang bertemu dengan seorang wanita tua yang menyerahkan pakaian dan penutup kepala yang disebut bakal mampu mengendalikan sang murid.

Rupanya, wanita itu adalah penjelmaan dari Dewi Guanyin, yang kemudian berhasil membujuk Wukong untuk kembali lewat sebuah lukisan dan cerita. Terdiam ketika disebut telah melewatkan kesempatan untuk mendapat pengajaran tentang kebenaran, Wukong akhirnya dengan berat hati kembali ke hadapan Xuanzang.

Langsung tertarik begitu melihat pakaian yang disimpan sang biksu, Wukong langsung melompat-lompat gembira begitu Xuanzang memperbolehkannya memakai pakaian yang disebut-sebut sebagai pemberian seorang wanita tua itu. Begitu mengenakan penutup kepala, tiba-tiba Wukong merasa kepalanya sakit luar biasa. Tak jauh dari sana, biksu Xuanzang terus membaca mantera.

Rupanya, di balik penutup kepala tersebut terdapat sebuah gelang kepala yang tidak bisa dilepaskan oleh siapapun. Begitu ada kesempatan, Wukong berusaha menyerang sang guru, tapi dengan cepat Xuanzang kembali membaca mantera yang membuat sang siluman kera berguling-guling kesakitan.

Karena tidak ingin disiksa lagi, Wukong akhirnya menyembah Xuanzang dan berjanji bakal menuruti perintah sang guru. Cobaan baru kembali didapat. Saat berada di pinggir sebuah sungai, muncul seekor naga raksasa yang melahap kuda tunggangan sang biksu.

Pilgrimage to the West Episode 10

Tidak tega melihat biksu Xuanzang bersedih, Wukong mengejar naga yang memakan tunggangan sang guru. Berhasil memancing sang naga keluar, ternyata Wukong berhadapan dengan seorang pria berbaju putih. Keduanya terlibat pertempuran seru, namun ternyata tidak mudah bagi Wukong untuk menaklukkan sang rival.

Penasaran karena tidak berhasil, Wukong kembali menjajal kemampuan naga putih musuhnya. Di darat, Xuanzang yang tengah menanti kembalinya Wukong kedatangan tamu istimewa : Dewi Guanyin. Oleh sang dewi, Wukong diminta untuk memanggil sang siluman naga putih menghadap.

Rupanya, naga putih tersebut bernama Yulong, yang merupakan putra ketiga Raja Naga Laut Barat yang diasingkan karena membuat kesalahan, tengah menanti kedatangan seorang biksu yang bakal mengambil kitab suci di Barat. Oleh Dewi Guanyin, Yulong diubah menjadi seekor kuda putih yang nantinya bakal digunakan oleh biksu Xuanzang.

Begitu Dewi Guanyin hendak pergi, Wukong langsung menyela dan mengatakan tidak sanggup menemani biksu Xuanzang dengan kemampuan yang dimilikinya. Sambil tersenyum, Dewi Guanyin memberikan tiga helai rambut ajaib yang bisa digunakan untuk saat mendesak.

Dengan kuda yang baru, Xuanzang meneruskan perjalanan. Ketiganya berhenti di sebuah kuil, dimana kepala biaranya mengaku sudah berumur nyaris 270 tahun. Dasar Wukong, ia malah sempat nyaris membuat keonaran, dengan memainkan gong, dan dengan santai menyebut bahwa sang kepala biara masih jauh lebih muda dibanding dirinya.

Terus bertanya-tanya soal benda yang dibawa Xuanzang, sang biksu kepala langsung tertarik begitu Wukong menyebut soal jubah pusaka. Dengan berat hati, Xuanzang menunjukkan jubah pemberian Dewi Guanyin yang langsung membuat seluruh penghuni biara terkesima. Tergerak oleh rasa serakah, kepala biara meminta ijin untuk melihat-lihat jubah tersebut selama satu hari.

Sifat serakah benar-benar telah menguasai kepala biara, ia hendak memiliki jubah pusaka Xuanzang untuk dirinya sendiri. Tergerak oleh permintaan sang guru, para biksu biara langsung memutuskan untuk menghabisi Xuanzang dan muridnya Wukong. Seorang biksu muda menentang, dan langsung dikurung di dalam sebuah gudang.

Niat busuk tersebut tercium oleh Wukong, yang langsung mendatangi salah satu dari Empat Dewa Penjaga Langit untuk meminjam payung sakti. Teringat dengan pesan sang guru untuk tidak sembarangan membunuh orang, Wukong berniat memberi pelajaran pada para biksu tamak yang berniat menguasai jubah sakti sang guru.

Kencangnya angin yang berhembus membuat seluruh kuil terbakar...kecuali biksu Xuanzang yang tengah tertidur pulas. Begitu bangun, sang biksu malah memarahi Wukong yang dianggap terlalu kejam. Sempat kesal dengan ucapan sang guru, Wukong kaget saat tahu jubah sakti biksu Xuanzang telah dicuri seseorang.

Pilgrimage to the West Episode 11

Setelah mencari kesana-kemari, Wukong akhirnya mulai mendapat jejak jubah pusaka sang guru. Sayang kebiasaan lamanya masih belum hilang. Saat seorang pria yang ternyata adalah siluman ular menolak buka mulut, tanpa basa-basi Wukong langsung menghajar kepala siluman itu hingga tewas.

Dengan kesaktiannya, Wukong tiba di depan gua tempat bermukim Siluman Beruang. Sempat meremehkan Wukong dan langsung mencelanya sebagai mantan tukang kuda di Istana Langit, sang siluman langsung ketar-ketir ketika Wukong menunjukkan kehebatannya. Beralasan bakal melanjutkan pertarungan setelah selesai makan, Siluman Beruang masuk ke guanya dengan terbirit-birit.

Di biara, Xuanzang menasehati kepala biara yang tamak untuk sadar dari kesalahannya dan tidak mencoba bunuh diri lagi. Wukong sempat kembali selama beberapa saat sebelum kemudian pergi lagi. Di perjalanan, ia melihat dua orang biksu yang kabur dari kuil dengan membawa harta benda dibunuh oleh seorang siluman.

Setelah ganti membunuh siluman tersebut, Wukong mendapati sebuah surat undangan pada kepala biara dari Siluman Beruang. Langsung menyamar, Wukong mampu masuk ke gua milik Siluman Beruang dengan mulus. Namun tak lama kemudian, penyamarannya terbongkar sehingga terjadi perkelahian sengit.

Lagi-lagi, Siluman Beruang mengeluarkan sejumlah alasan untuk menunda pertarungan sebelum kemudian kabur. Wukong yang gemas langsung menyusul sambil berniat menghancurkan gerbang gua tempat sang siluman bermukim, namun ia sangat terkejut ketika pintu gua bergeming meski sudah dihajar dengan tongkat saktinya.

Kembali dengan tangan hampa, Wukong ditegur oleh biksu Xuanzang. Langsung menceritakan apa yang dilihatnya, termasuk dugaan kalau Siluman Beruang dan biksu kepala bersekongkol, Wukong terdiam ketika ditanya Xuanzang soal nasib siluman yang ditemuinya dan langsung pergi ke tempat Dewi Guanyin.

Datang sambil marah-marah, Wukong langsung tertunduk malu ketika Dewi Guanyin menegurnya. Karena memandang Xuanzang, sang dewi akhirnya setuju membantu Wukong untuk menaklukkan Siluman Beruang. Di tengah perjalanan, sikap buruk Wukong kembali muncul ketika tanpa basa-basi langsung membunuh siluman serigala yang merupakan salah satu sahabat Siluman Beruang.

Meminta Dewi Guanyin menyamar sebagai siluman serigala, Wukong sukses masuk ke markas Siluman Beruang. Bahkan, belakangan sang siluman harus merasakan kepalanya dibalut gelang sakti seperti yang dimiliki Wukong. Karena tidak kuat menahan sakit, Siluman Beruang takluk dan menyebut siap mengabdi untuk kebaikan.

Setelah mendapatkan apa yang dicari, Wukong kembali ke biara dan disambut oleh Xuanzang. Sempat menolak ketika sang guru memerintahkan Wukong menyerahkan jubah kepada kepala biara, kebaikan hati Xuanzang membuka mata para penghuni biara, yang memutuskan bakal bertobat dan kembali ke jalan kebenaran.

Pilgrimage to the West Episode 13

Sebelum dibuang ke Bumi, Wuneng ternyata masih sempat berusaha merayu Chang'e, yang dengan kesal memukulnya hingga terjatuh. Langsung menyatakan diri siap mengikuti biksu Xuanzang ke Barat, hal terberat yang dirasakan sang siluman babi adalah berpisah dengan istrinya yang cantik Cue Lan.

Mendengar cerita Wuneng, Xuanzang memutuskan untuk memberi nama baru : Bajie. Perpisahan antara Bajie dan Cue Lan berlangsung mengharukan. Meski berat, Cue Lan dengan ikhlas melepas kepergian sang suami. Perjalanan yang cukup panjang membawa rombongan biksu Xuanzang ke tepi sebuah sungai yang lebar dan berarus deras.

Atas desakan Wukong, Bajie yang terus mengomel ditugaskan untuk mencari jalan menyeberang. Ketika tengah mengamati situasi, tiba-tiba dirinya diserang oleh sosok tidak kelihatan berbentuk pasir. Rupanya, sungai tersebut memiliki siluman penunggu yang ganas dan dikabarkan telah meminta banyak korban.

Gagal untuk meringkus siluman misterius tersebut, Bajie sempat ngambek karena terus diolok-olok oleh Wukong. Namun, sang kakak seperguruan berhasil membujuknya untuk kembali memancing siluman penunggu sungai untuk keluar dari persembunyian. Sayang, Wukong sendiri ternyata juga gagal.

Saat tengah memikirkan cara untuk menyeberang, tiba-tiba sebuah jembatan terbentang. Sayangnya sebelum sampai ke seberang, rombongan biksu Xuanzang baru sadar bahwa jembatan tersebut adalah jebakan. Tiba-tiba muncul Dewi Guanyin, yang memberitahu bahwa siluman pasir tersebut bakal membantu biksu Xuanzang dalam perjalanan ke Barat.

Dengan bantuan lonceng Dewi Guanyin, sang siluman pasir berhasil dikurung sementara Wukong diminta untuk memukul-mukul lonceng tersebut demi mengusir hawa jahat. Begitu lonceng pecah, sesosok pria berambut awut-awutan dengan kalung tengkorak memberi hormat kepada Dewi Guanyin.

Kepada siluman pasir bernama Sha Wujing tersebut, Dewi Guanyin memberitahu bahwa biksu yang selama ini dinanti telah tiba. Rupanya meski bersosok kasar, Wujing sangat sopan, ia langsung memberi hormat pada biksu Xuanzang, Wukong, dan Bajie sambil meminta maaf atas kelancangannya yang telah menyerang ketiganya. Berdasarkan petunjuk Dewi Guanyin, Wujing akhirnya diangkat sebagai murid ketiga.

Perjalanan berlanjut dan kali ini suasana lebih meriah. Pasalnya selain Wujing yang rajin, celoteh dan adu mulut antara Wukong dan Bajie tidak pernah berhenti sehingga kerap membuat biksu Xuanzang tersenyum. Tanpa terasa, mereka sampai ke sebuah tempat dimana terdapat sebuah rumah yang luas berpenghuni seorang janda yang memiliki tiga anak gadis.

Rupanya ada kisah yang cukup memilukan bagi keluarga yang seluruhnya berisi wanita tersebut, suami mereka satu-persatu meninggal secara misterius. Menurut kabar, hanya pria yang tidak memiliki apa-apa yang bisa mematahkan kutukan tersebut. Bisa ditebak, yang paling berminat adalah Bajie terutama begitu tahu kalau ketiga putri janda tersebut memiliki paras yang cantik.

Pilgrimage to the West Episode 14

Pemilik rumah mengajukan penawaran menarik : biksu Xuanzang dan tiga muridnya diijinkan untuk memilih salah satu dari tiga anak perempuannya untuk dinikahi. Tidak cuma diiming-imingi bakal ditanggung kehidupannya, nyonya rumah juga mencela kepergian rombongan biksu Xuanzang yang dianggap membuang-buang waktu.

Iming-iming kemakmuran dan kekayaan ternyata tidak menggoyahkan biksu Xuanzang, yang tetap teguh pada pendiriannya. Dari keempat anggota rombongan, yang paling tergoda adalah Bajie, namun ia berusaha menutupi keinginannya dengan mendorong sang guru Xuanzang dan adik seperguruannya Wujie untuk menerima tawaran sang empunya rumah.

Ketika malam tiba, satu-persatu anggota rombongan digoda oleh ketiga anak perempuan pemilik rumah...kecuali Bajie. Tidak memperdulikan perempuan yang ada dihadapannya dengan begitu menggoda, Xuanzang terus membaca ayat-ayat ajaran Buddha. Di saat yang sama, Wujing yang polos sangat ketakutan begitu tahu salah seorang anak perempuan pemilik rumah sudah berada disampingnya dan langsung mengusir perempuan itu keluar.

Bajie yang kesal memutuskan untuk mengendap-ngendap dan mendengarkan pembicaraan antara pemilik rumah dan ketiga putrinya. Begitu tahu kalau ketiganya tengah memperebutkan dirinya, Bajie tidak bisa lagi menahan diri dan langsung muncul dari persembunyian. Kepada sang pemilik rumah, ia mengaku siap menjadi istri salah satu dari ketiga putri dan yakin kalau biksu Xuanzang tidak akan melarang.

Ketika menghadap sang guru, Bajie pura-pura prihatin dan berusaha menunjukkan kalau dirinya hanya memikirkan kebaikan Xuanzang. Tidak sadar kalau Wukong telah mendengar semua pembicaraan, Bajie pura-pura pergi dengan berat hati ketika Xuanzang mengijinkannya untuk menikah dengan salah satu putri pemilik rumah. Begitu tidak terlihat, Bajie mulai memperlihatkan sifat aslinya.

Mendengar kalau tiga putri pemilik rumah memperebutkan dirinya, Bajie menawarkan diri untuk memperistri ketiganya sekaligus. Sayang ketika diuji untuk menangkap salah satu dari tiga putri tersebut, sang siluman babi gagal. Paginya saat terbangun, Bajie mendapati dirinya terikat di sebuah pohon. Ia langsung menangis meraung-raung sambil berteriak minta tolong.

Rupanya, sang pemilik rumah dan tiga anak perempuannya adalah utusan dari Langit yang ditugaskan untuk mencobai rombongan biksu Xuanzang. Sejak awal, Wukong rupanya sudah tahu kalau rombongan biksu Xuanzang tengah dicobai. Setelah menertawakan sambil mengolok-olok Bajie, Wukong bersama biksu Xuanzang dan Wujie meneruskan perjalanan.

Memasuki sebuah wilayah asing yang angker, Wukong meminta Bajie dan Wujing untuk menemani biksu Xuanzang sementara dirinya memeriksa keadaan dari atas awan. Mereka tidak sadar bahwa tempat tersebut adalah wilayah kekuasaan Siluman Tengkorak Bai Gu Jing, yang berniat menangkap biksu XUanzang untuk disantap dagingnya. Konon, daging sang biksu bisa membuat seseorang hidup abadi.

Menyamar sebagai wanita cantik, Bai Gu Jing mendatangi biksu Xuanzang, yang ditemani oleh Bajie dan Wujing, untuk menawarkan makanan. Berbeda dengan Wujing yang curiga melihat seorang gadis berkeliaran sendirian di tengah hutan, mata Bajie langsung berbinar-binar melihat kecantikan Bai Gu Jin.

Pilgrimage to the West Episode 15

Tidak memperdulikan nasehat Wukong, Bajie langsung mengambil makanan yang disodorkan Siluman Tengkorak Bai Gu Jing (yang menyamar sebagai gadis cantik) dengan cepat dan nyaris saja melahap semuanya kalau saja tidak teringat dengan biksu Xuanzang.

Ketika semuanya lengah, Bai Gu Jing berniat membunuh biksu Xuanzang. Namun, Wukong tiba-tiba muncul dan mengacaukan rencananya. Bajie berusaha menenangkan, namun Wukong yang sudah terlanjur jengkel melayangkan tongkatnya sehingga gadis cantik jelmaan Bai Gu Jing langsung tewas.

Melihat kekejaman Wukong, Xuanzang sangat marah dan langsung membacakan mantera yang membuat gelang kepala sang murid menyempit hingga siluman kera itu berteriak-teriak kesakitan. Berusaha menunjukkan kalau yang dibunuh adalah penjelmaan siluman, Wukong tetap dimarahi sang guru yang polos. Ditambah lagi, Bajie ikut memanas-manasi Xuanzang untuk memberi hukuman yang berat pada Wukong.

Sempat diusir, Wukong akhirnya diampuni Xuanzang dengan syarat tidak boleh membunuh orang lagi. Namun, emosinya memuncak begitu melihat Bai Gu Jing kembali dengan mengaku sebagai ibu dari gadis yang tewas di tangan Wukong. Melihat wanita tua itu mendekati sang guru, Wukong melupakan larangan Xuanzang dan kembali membunuh jelmaan Bai Gu Jing untuk kedua kalinya.

Tidak membiarkan Siluman Tengkorak kabur begitu saja, Wukong melakukan pengejaran dan keduanya terlibat pertempuran seru. Saat tengah adu mulut, karena Bai Gu Jing meminta sang siluman kera untuk melihat sosoknya dengan cermat, Wukong tiba-tiba jatuh sambil memegangi kepalanya. Rupanya, Xuanzang kembali membaca mantera yang membuat gelang kepala Wukong menyempit.

Melihat sang kakak seperguruan menderita, Wujing langsung memohon pada Xuanzang untuk menghentikan bacaan manteranya. Untuk kedua kalinya, Wukong kembali diusir namun menolak sambil menyembah-nyembah minta diampuni. Memberi kesempatan bagi sang murid untuk terakhir kalinya, Xuanzang akhirnya kehilangan kesabaran ketika Wukong kembali membantai seorang pria tua yang mengaku sebagai suami dan ayah dari dua wanita yang telah tewas sebelumnya.

Meski sudah ditunjukkan bukti-bukti kuat lewat jenazah sang pria yang berubah menjadi tengkorak, Xuanzang tidak mau lagi mengakui Wukong sebagai murid dan mengusirnya pergi. Meski nakal, Wukong ternyata memang murid yang berbakti. Sebelum pergi, ia menyembah sang guru sebanyak tiga kali sebagai wujud terima kasih pada Xuanzang sebelum kemudian terbang sambil menangis tersedu-sedu.

Tak lama setelah Wukong pergi, Bai Gu Jing menunjukkan wujud aslinya dan tiga jelmaan sebelumnya. Dari situ, Xuanzang sadar kalau dirinya telah melakukan kesalahan, namun semuanya sudah terlambat. Tanpa kesulitan, Bai Gu Jing mampu mengalahkan Bajie dan Wujing.

Terbang tidak tentu arah, Wukong sampai ke Gua Shan Xing. Sempat ragu-ragu, pintu gua tersebut langsung terbuka. Buru-buru masuk, Wukong langsung berlutut untuk memberi penghormatan pada Wu Di, guru pertama sekaligus orang yang mengajarinya berbagai kesaktian. Sambil menangis tersedu-sedu, Wukong meminta maaf atas semua kesalahan yang dilakukannya.

Pilgrimage to the West Episode 16

Ternyata, sejak awal biksu Xuanzang juga sudah mencurigai tiga sosok manusia yang ditemuinya. Namun di lain sisi, ia tidak bisa menyangkal saran Bajie sebelumnya yang menyebut bahwa siluman juga adalah mahluk hidup dan tidak boleh dibunuh begitu saja.

Di saat biksu Xuanzang pasrah memikirkan nasibnya, Siluman Tengkorak Bai Gu Jing tengah mempersiapkan cara terbaik untuk menyantap daging sang biksu bersama Pangeran Tianyin (yang belum sadar akan kelicikan sang siluman tengkorak). Begitu sang pangeran muncul, Bai Gu Jing langsung memutar-balik cerita dan memposisikan biksu Xuanzang sebagai orang yang jahat.

Tidak sadar akan apa yang terjadi pada biksu Xuanzang, Wukong berusaha memenuhi keinginan guru pertamanya Wu Di untuk mengasah sebuah batu menjadi kaca. Kesal karena tidak mengerti dengan keinginan sang guru, Wukong memutuskan untuk kembali ke Gunung Hua Guo untuk kembali bertemu dengan para kera yang disayanginya.

Namun 500 tahun berlalu, keadaan Gunung Hua Guo sudah berubah, separuh diantaranya hangus terbakar saat peperangan dengan Istana Langit sementara hanya dua kera yang tersisa dari masa kejayaan Wukong. Yang mengenaskan, cucunya Xiao Xiao sangat kesepian karena wujudnya sebagai kera muda tidak bisa berubah sementara rekan-rekan seumurannya sudah lama mati.

Sementara itu, Bajie yang terus mencari Wukong untuk meminta bantuan akhirnya putus asa dan memutuskan untuk turun tangan sendiri membebaskan gurunya Xuanzang dan Wujing. Meski berhasil masuk ke Gua Tengkorak, namun ilmu silatnya tidak bisa menandingi Bai Gu Jing. Akhirnya, Bajie dan Wujing dilempar keluar Gua Tengkorak sementara Xuanzang tetap ditahan.

Pertempuran tersebut terlihat oleh Pangeran Tianyin, yang baru sadar akan watak Bai Gu Jing yang sebenarnya. Ia memutuskan untuk berbicara dengan Siluman Tengkorak itu untuk membujuknya melepaskan Xuanzang. Ketika sang pangeran mengancam bakal bunuh diri, Bai Gu Jing menyetujui permintaan tersebut.

Semua itu ternyata hanya akal bulus saja, Bai Gu Jing tetap berniat menyantap daging Xuanzang yang disebut bisa memberi umur panjang karena sadar sang pangeran yang adalah seorang manusia tidak seperti siluman yang berumur panjang. Diam-diam mendengar pembicaraan itu, Pangeran Tianyin cuma bisa menunduk sedih sambil membulatkan tekadnya membebaskan Xuanzang.

Berhasil membuat para penjaga mabuk, Pangeran Tianyin berhasil membawa Xuanzang keluar dari Gua Tengkorak. Secara tidak sengaja, keduanya bertemu Bajie dan Wujing yang tengah mencari cara membebaskan sang guru. Sebelum berpisah, Pangeran Tianyin menitipkan surat pada Xuanzang untuk ayahnya yang berkuasa di negara Bao Xiang.

Tiba-tiba terdengar suara Bai Gu Jing yang memerintahkan anak buahnya untuk melacak Xuanzang dan Pangeran Tianyin. Nekat mempertaruhkan nyawa, Pangeran Tianyin berusaha berjalan menjauh dari Gua Tengkorak. Langkahnya semakin lama semakin berat, dan ia akhirnya ambruk sambil memuntahkan darah.

Pilgrimage to the West Episode 17

Begitu mendapat surat titipan Pangeran Tianyin, raja negara Bao Xiang langsung meminta sukarelawan untuk membebaskan sang putra. Siapa sangka, tidak ada satupun pejabat yang berani menawarkan diri. Bahkan, salah seorang diantaranya malah meminta biksu Xuanzang mengutus Bajie dan Wujing.

Sementara itu di Gunung Hua Guo, Wukong terus mengasah batu pemberian guru pertamanya Wu Di. Begitu selesai dan bisa melihat bayangan dirinya di cermin, Wukong sadar ada sesuatu yang salah pada dirinya. Ucapan salah seorang monyet tua yang merupakan penasehat menyadarkan dirinya akan satu hal : keceriannya sebagai bangsa kera telah hilang.

Tidak cuma itu, sang penasehat juga bisa menebak bahwa meski sudah kembali ke Gunung Hua Guo, pikiran Wukong masih melanglang buana bersama gurunya Xuanzang. Ucapan itu langsung membuat Wukong teringat dengan kejadian-kejadian yang telah dialaminya, dan sang penasehat dengan bijak menyuruhnya pergi mencari sang guru.

Saat sadar, Pangeran Tianyin mendapati dirinya tengah dirawat oleh Siluman Tengkorak Bai Gu Jing dan dengan cepat menepis tangan wanita itu. Keruan saja Bai Gu Jing sedih, apalagi ketika Pangeran Tianyin menyebut tidak bisa lagi mempercayai ucapannya. Rupanya, sang pangeran tidak bisa melupakan kalau dirinya telah berulang kali dibohongi.

Tiba-tiba terdengar kegaduhan didepan Gua Tengkorak, dan yang melakukannya adalah Bajie dan Wujing. Akibatnya, terjadi pertempuran sengit yang berakhir dengan kemenangan Bai Gu Jing. Begitu melihat Wujing berhasil diringkus, Bajie yang sempat berkoar-koar langsung melarikan diri.

Begitu tahu kalau Wujing adalah utusan dari negara Bao Xiang, Siluman Tengkorak Bai Gu Jing langsung marah dan menuduh kalau semuanya adalah bagian dari siasat Pangeran Tianyin. Keruan saja sang pangeran bingung, ia tidak merasa telah meminta bantuan dari ayahnya. Hal serupa juga diluruskan oleh Wujing yang menyebut bahwa apa yang diduga Bai Gu Jing adalah akibat mulut besar Bajie.

Berniat untuk membalas, Bai Gu Jing datang ke negara Bao Xiang dengan mengaku sebagai selir Pangeran Tianyin. Di depan raja, ia beralasan kalau sang pangeran terluka parah oleh serangan siluman harimau sehingga tidak bisa ikut. Sebagai bukti kalau dirinya tidak berbohong, Bai Gu Jing menunjukkan kalung yang telah dipakai Pangeran Tianyin sejak kecil.

Yang mengejutkan, Bai Gu Jing memfitnah biksu Xuanzang dan menyebutnya sebagai jelmaan siluman harimau. Lebih lanjut, Bai Gu Jing menyebut kalau biksu Xuanzang yang asli tengah terluka parah dan posisinya digantikan oleh siluman harimau yang menyamar. Keruan saja, Xuanzang yang dipanggil menghadap sangat kaget mendapat fitnah tersebut.

Namun, dengan cepat Bai Gu Jing mengubah Xuanzang menjadi seekor harimau dengan sihirnya. Mampu merasakan gurunya dalam bahaya, Yulong sang kuda putih tunggangan Xuanzang berubah ke bentuk aslinya. Bertekad untuk menyelamatkan Xuanzang, ia terlibat pertempuran hebat dengan Bai Gu Jing. Sayang, Yulong masih kalah sakti dari sang Siluman Tengkorak.

Dalam keadaan luka parah, Yulong menyuruh Bajie untuk meminta pertolongan dari Gua Hua Guo. Meski gengsi, mau tidak mau Bajie mengikuti permintaan Yulong. Bisa ditebak, Wukong yang memang masih sakit hati tidak mau mendengar ucapan Bajie, yang berbohong dengan menyebut kalau biksu Xuanzang-lah yang menyuruhnya menjemput sang siluman kera pulang.

Setelah dikerjai para kera, barulah Bajie menceritakan yang sebenarnya. Kaget saat tahu gurunya ditawan Bai Gu Jing, ditambah Bajie yang memanas-manasi, Wukong langsung terbang menuju Gua Tengkorak untuk membereskan semua masalah. Baginya tidak penting kalau Xuanzang tidak lagi menganggapnya sebagai murid, asalkan sang guru bisa dibebaskan.

Pilgrimage to the West Episode 18

Dengan suara lemah, Pangeran Tianyin mengaku kalau dirinya telah diguna-guna oleh Siluman Tengkorak Bai Gu Jing. Namun setelah diteliti lewat mata sakti, Wukong tidak menemukan apapun dalam tubuh sang pangeran...kecuali sebuah bekas luka yang diaku sebagai tanda lahir.

Di saat yang sama, Bai Gu Jing memutuskan untuk mendatangi singasana raja setelah identitasnya sebagai Siluman Tengkorak terbongkar. Setelah melewati hadangan para penjaga, ia kembali mengubah Xuanzang, yang langsung menasehati Bai Gu Jing untuk mau bertobat dan berhenti melakukan perbuatan jahat. Tiba-tiba, siluman itu dikelilingi para pengawal istana beserta raja dan ratu dibelakang pasukan.

Baru saja hendak bertindak, Bai Gu Jing dikejutkan oleh kemunculan Pangeran Tianyin yang dibopong oleh Bajie. Melihat kondisi sang pangeran yang tidak sadar, Bai Gu Jing sadar bahwa satu-satunya harapan adalah memakan daging Xuanzang. Begitu Wukong menentang niatnya, Bai Gu Jing menantang sang siluman kera untuk bertarung.

Setelah terlibat pertarungan beberapa jurus, Wukong baru sadar kalau Siluman Tengkorak Bai Gu Jing ternyata adalah Siluman Bangau Bai Feng saudara angkatnya. Ketika dikonfrontir, Bai Gu Jing menyalahkan Wukong atas perubahan yang terjadi pada dirinya. Rupanya saat pertempuran dengan Istana Langit 500 tahun silam, luka parah membuat tubuh Bai Feng hancur hingga ia harus merasuk ke jasad seorang wanita yang hanya tersisa tulang-belulangnya saja.

Wukong yang tidak tega akhirnya membiarkan Bai Gu Jing kembali ke istana. Begitu tiba, Siluman Tengkorak itu dikonfrontir oleh Pangeran Tianyin, yang akhirnya tahu penyebab dirinya tak bisa berpisah dari Bai Gu Jing. Rupanya, Pangeran Tianyin di kehidupan yang lalu adalah seorang gadis yang meninggal karena terkena panah seorang pemburu secara tidak sengaja.

Dalam kehidupan sekarang, pemburu tersebut adalah raja Baoxiang. Yang mengejutkan, tengkorak yang dirasuki oleh Bai Gu Jing ternyata adalah milik gadis malang itu. Kaget mendengar penuturan tersebut, Bai Gu Jing sadar bahwa satu-satunya cara agar Pangeran Tianyin terbebas adalah dengan mengorbankan dirinya sendiri.

Di tengah kobaran api yang mengelilinginya, Bai Gu Jing bunuh diri diiringi kesedihan Pangeran Tianyin dan Wukong, yang tidak berdaya mencegah. Namun Bai Gu Jing ternyata tidak mati begitu saja, rohnya yang telah menjelma kembali menjadi Bai Feng yang cantik-jelita dijemput oleh Dewi Guanyin. Sambil tersenyum manis, Bai Feng mengucapkan salam perpisahan dan meminta Pangeran Tianyin menjadi raja yang baik sebelum mereka bersatu lagi di keabadian.

Kembali melanjutkan perjalanan, Wukong senang bukan kepalang ketika sang guru menyatakan siap menerimanya sebagai murid lagi asalkan sang siluman kera mau mengurangi sifat sadisnya. Dengan penuh semangat, Wukong memimpin rombongan melewati rintangan berikutnya.

Setelah berjalan cukup lama, mereka sampai di lereng sebuah gunung. Setelah bertanya pada seseorang yang kebetulan lewat, yang ternyata sangat dikenal Wukong, baru ketahuan kalau gunung tersebut menyimpan misteri. Langsung mendapat akal, Wukong berniat mengerjai Bajie agar tidak bermalas-malasan lagi.



Courtesy of Indosiar

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS